Saturday, 3 March 2018

Penuh Kegagalan

Diawali dari sebuah ccerita yang indah, dimana aku diterima bekerja di perusahaan media menjadi seorang wartawan dan dianggap senior. Lebih lagi aku ditawarkan gaji lebih tinggi dari yang aku kira, pastinya lebih tinggi dari perusahaan sebelum ini.

Dengan langkah semangat, aku hadir pada hari pertama, Senin (9/2/11) di perusahaan yang memang baru dan baru akan menerbitkan berita harian. Harapanya, aku dapat bekerja lebih profesional dibandingkan tempat kerja sebelumnya.

Kenapa tidak, sebelumnya aku bekerja di perusahaan keluarga bisa berbuat sekehandak hatiku. Pada perusahaan baru ini, aku terpaksa harus mengikuti ritme kerja yang diatur oleh perusahaan, aku harus bekerja sesuai dengan targget dan dikejar oleh waktu.

Pada hari pertama kerjaku, aku adalah orang yang paling rajin untuk hadir di kantor Jalan Arifiin Ahmad, Kelurahan Sidomulyo Timur, Pekanbaru. Karena aku adalah orang yang pertama kali datang ke kantor, lebih cepat 30 menit dari jadwal rapat proyeksi pukul 08.00 WIB.

Begitu juga pada hari berikutnya, aku juga merasa sebagai orang yang paling rajin. Aku tetap menjadi orang pertama yang hadir pertama kali di kantor hingga hampir dua minggu. Padahall jarak rumah dan kantor tidak terlalu dekat dan masih memerlukan waktu sekitar 20 menit untu naik kendaraan roda dua.

Berawal dari itu semua, pada minggu ke empat aku mulia jenuh dan mengikuti pola kerja karyawan yang lain. Aku datang ke kantor untuk rapat proyeksi lebih lambat 15 menit dan bahkan lebih dari itu. Aku hadir setelah kawan-kawan lainya sedang melakukan rapat.

Tapi kejenuhan tersebuut tidak berlangsung lama, pada tanggal 3 Maret 2011 surat kabar yang aku tuunggu-tungguu telah terbit dan membangkitkan aku kembali. Aku mulai bekerja ritme yang diatur perusahaan, aku mencoba mengerjakan seluruh tugas atau itu proyeksi namanya sesuai dengan waktu yang diberikan.

Uda ha.. mau bubuk dulu.. besok ya aku lanjut...